Eksistensi Pengrajin Tempe dan Tahu di Indonesia Terancam, SoyBeaN Indonesia dan Gakoptindo Mengadakan Pertemuan Terkait Program-Program dalam Mendukung Kemajuan Pengrajin/Industri Tempe dan Tahu
Pertemuan SoyBeaN Indonesia dengan Pengurus Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) dilaksanakan pada hari Sabtu (23 Maret 2024) di Kota Depok, Jawa Barat. Kegiatan dilakukan dalam rangka mempererat kerja sama terkait program-program dalam mendukung kemajuan pengrajin/industri tempe dan tahu serta meningkatkan bisnis kedelai beserta produk olahan kedelai di Indonesia. Pertemuan dihadiri langsung oleh pengurus SoyBeaN Indonesia diantaranya Prof. Dr. Ahmad Sulaeman, MS (Ketua), Prof. Dr. Ardiansyah (Sekretaris Jenderal), Bpk. Ibnu Edy Wiyono, SE (Country Director USSEC for Indonesia), Bpk. Hendry Noer Fadlillah, STP, MP (Program Manager), dan Neneng Munifah S, S.Gz (Sekretariat). Pengurus Gakoptindo yang hadir dalam pertemuan tersebut diantaranya Drs. Asep Nurdin, M.Pd (Pengawas), Drs. H. Aip Syarifuddin (Ketua Umum), Drs. Hugo Siswaya (Sekretaris Jenderal), Drs. Yoni Ahmad Taufik (Bendahara), Bpk. H. Sutaryo (Ketua Bidang Organisasi dan Kelembagaan), dan Bpk. Sukhaeri, SP, SE (Ketua Bidang Pengembangan Usaha).
Gakoptindo menyampaikan bahwa saat ini terdapat ancaman bagi eksistensi para pengrajin tempe dan tahu disebabkan oleh beberapa masalah yang terjadi salah satunya mengenai lahan produksi yang tidak tersedia. Karena itu, Gakoptindo berharap dengan adanya pertemuan bersama SoyBeaN Indonesia ini menjadi salah satu cara dalam mencari solusi terkait permasalahan yang terjadi bagi para pengrajin tempe dan tahu di Indonesia. Masalah lain yang terjadi adalah belum meratanya pengrajin tempe dan tahu melakukan produksi dengan menerapkan GMP hingga HACCP sehingga produk yang dihasilkan belum sepenuhnya memiliki mutu yang lebih baik dan higienis.
SoyBeaN Indonesia memberikan beberapa rekomendasi atau opsi dalam menangani permasalahan tersebut. Perlu adanya pembuatan rumah percontohan tahu seperti yang sudah dilakukan oleh Rumah Tempe Indonesia (RTI), hal ini bertujuan untuk menjadi role model dalam memproduksi tahu yang lebih baik dan higienis. Saat ini sudah tersedia salah satu rumah percontohan tahu di Salatiga namun perlu adanya kunjungan untuk melihat detail kondisinya. Selain perlu adanya rumah percontohan tahu, para pengrajin tempe dan tahu perlu diberikan training terkait sanitasi dan hygiene, yang kemudian tahap selanjutnya perlu adanya screening untuk melihat peserta yang berkomitmen untuk berubah dan memiliki kemampuan serta kemauan kuat. Peserta terpilih diberikan pelatihan terkait entrepreneur sehingga harapannya para pengrajin tempe dan tahu dapat menghasilkan produk yang memenuhi standar dan memiliki wawasan dalam mengembangkan produknya.
Dalam meeting tersebut Gakoptindo dan SoyBeaN Indonesia menyepakati perlu adanya komunikasi dan koordinasi bersama Pemerintah Daerah dalam penyediaan lahan produksi bagi para pengrajin tempe dan tahu di setiap kabupaten/kota, tentunya ini merupakan tantangan besar namun perlu dilakukan agar pengrajin tempe dan tahu dapat dikelola dengan maksimal dan terpusat. Lahan tersebut harapannya tidak sekadar menjadi tempat kumpulnya produksi pengrajin tempe dan tahu, namun juga menjadi eduwisata pembuatan tempe dan tahu yang baik dan higienis. Tindak lanjut pertemuan ini yaitu kesepakatan untuk melakukan kunjungan ke Sumedang dan Ciamis serta ke sentra percontohan industri tahu di Penajam/Balikpapan. Disepakati juga untuk diadakan pelatihan dalam bentuk inhouse training di Sumedang dan di Ciamis.



